Kamis, 08 Mei 2008


jenggot paling aneh di dunia

GLOBALISASI ,PENJAJAHAN YANG MELANAKAN

Sekitar sepuluh tahun terakhir, istilah ''globalisasi '' menjadi salah satu kata yang paling populer di muka bumi , termasuk di negara kita 9ini. hampir semua orang seperti berlomba lomba menggunakan istilah tersebut,baik di forum seminar ,di ruang kuliah ,di rumah ibadah maupun di wa rung kopi ,meski yang mengucapkan belum tentu paham betul tentang esesi ,artidan dampaknya.
Akibat kebelumpahaman itu ada sebagian orang yang menyikapinya dengan gembira , seolah akn kedatangan tamu istimexwa . sementara itu sebagian yang lain menyikapi dgan perasaan ketakutan tanpa tahu apa sebabnya dia takut
Ada banyak definisi dan pengertian tentang globalisasi ini, sebagian diantaranya akan bibahas cukup panjang dalam kajian utama kali ini. Dari sekian banyak definisi itu, saripati pengertian globalisasi adalah suatu proses transformasi berbagai aspek kehidupan manusia mencakup ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya teknologi komunikasi, keamanan dan sebagainya yang berasal dari entias lokal negara-negara lebih kuat untuk diterapkan di negara-negara lemah sehingga berbagai aspek kehidupan di negara-negara lemah menjadi seragam dengan berbagai aspek kehidupan di negara-negara maju.
Kalu di negara maju masyarakatnya biasa mengkonsumsi roti, pizza, potato stick, soft drink dan wine. Maka masyarakat lemah "disihir" dengan berbagai propaganda supaya juga menyukai dan membeli berbagai produk yang mereka miliki. Supaya tak jelas-jelas terlihat sebagai pemaksaan, tak lupa mereka membungkus produknya itu dengan mantra-mantra sakti berupa bingkai gaya hidup barat dan modern sehingga saat mengkonsumsi produk semacam French atau burger bikinan restoran waralaba Mc. Donalds. Para pecundang dari negara miskin ini mserasa seolah-olah telah menjelma menjadi bagian dari masyarakat negara maju, padahal semua itu cuma tipuan yang melanakkan, dalam upaya memindahkan uang dari dompet tipis masyarakat negara miskin ke pundi-pundi kapitalis negara-negara maju.

Jumat, 02 Mei 2008

Kampungku Yang Sunyi

Kampungku di sebuah kota kecil yang sunyi, jauh terpencil di utara. Ya, kotaku kecil dan sunyi kawan. Kota dimana aku dilahirkan. Dan kian kubayangkan kesunyian ini, bila kuterima surat kawanku dari kampung, bahwa bila ia duduk-duduk di hek jembatan dari jam tujuh pagi hingga jam sebelas, orang-orang yang lalu disitu dapat dhitung dengan jari tangan.
Dan, ah, surat begitu membuat aku terkenang kampungku. Kampungku yang sekian lama sudah kutinggalkan. Ketika aku masih kecil. Masih kanak-kanak. Bila hari menjelang sore dan malam-malam baik, kami selalu duduk-duduk dan bermain dijmbatan kampungku. Getak menurut istilah disana. O, ya, kawan, sepanjang kampung membujur sebuah jembatan dari timur kebarat yang bersambung pula dengan sebuah kampung yang lain. Sebab selorong kecil selebar dua meter dari selatan, dari sebuah jalan yang agak lebar melingkar kotaku membelah dua kampungku, hingga pada pertengahan jembatan yang disambut pula oleh sebuah station penyebrangan.
Hm, baru sekarang saja aku menamainya station, dimana orang-orang sekitar kampungku, kampung-kampung di timur dan di barat hingga kampung-kampung diselatan mendapatkan sampan tambang untuk menyebrang, kepasar yang persis terletak dihadapan kampungku. Sampan-sampan yang menyebrang dan kestation itu sampan-sampan yang tertentu. Sampan itu sudah membayar pajak kepada pemerintah. Jadi, sampan-sampan yang lain yang tidak membayar pajak tajbisa singgah atau bertambah disitu.
Tahu sekarang, bahwa kampungku dipinggir sungai. Begitulah, bila malam baik dan bulan bersinar, tak jarang aku mengikuti kawan-kawan yang besar sedikit bermain-main sampan. Kami yang kecil-kecil mengayuh. Kawan-kawan itu kadang-kadang dengan gitarnya bernyanyi menyusuri sungai, kampung dei kampung lalu putar lagi. Indah benar nampaknya bulan bermain-main di air yang kadang-kadang dimuka, kadang-kadang dibelakang berpencar-pencar dibawah gelombang-gelombang kecil oleh sentuhan sesuatu tiba di air, dan kemudian bersatu lagi dan bermain-main di air yang mengalun lembut.
Tapi kami dengan hati-hati skali mengayuh. Dan dipinggir sungai ditempat-tempat mandi dan pohon-pohon kayu yang disusun lalu diberi lantai dengan baiknya atau dimuka-muka lanting yaitu rumah diatas air yang mengapit jembatan dengan rumah-rumah di dataran yang berderet-deret disepanjang sungai yang membelah kotaku. Itu terdengar keriyuhan suara gadis-gadis. Mereka bersiram dimalam hari dan kawanku kian indah memetik gitar.